MERDU SYMPHONY TAK BERBUNYI
Hujan tak lagi
seindah hari kemarin. Atau mungkin hujan tahu bahwa ia jatuh di Kota
yang tak indah. Kota yang penuh dengan gedung megah pencakar langit, Kota
yang penuh dengan gemerlap dunia malam, Kota
yang yang penuh dengan tikus- tikus negara, Kota
yang menutup mata dan telinga dari rintihan rakyat jelata.Mungkin hujan telah
jengah, atau mungkin telah bosan memancarkan pesona di Kota
yang kotor ini.Atau mungkin aku yang telah bosan mengagumi hujan? Ah! Tidak,
aku tetap suka mengagumi hujan, hujan di desaku.Hujan yang turun di dedaunan
hijau, hujan yang membelai rumpu- rumput, hujan yang senantiasa menyegarkan
bunga- bunga layu. Tapi aku benci hujan di kota ini. Hujan di sini redup,
seolah mengeluh, bahkan rintiknya tak lagi merdu seperti yang sering kudengar,
bising mengusik telinga, menggeram marah.Mungkin berteriak pada mereka yang
duduk di kursi panas untuk berhenti bermain- main.Berhenti bermain- main dengan
kedudukan, kekuasaan dan berhenti bermain- main
dengan kehidupan rakyat.
“ Belum tidur, Yu?” mbak Pita muncul dari balik pintu
sambil membawakan segelas susu hangat. “ Masih suka ngelamun di depan jendela
sambil mantengin hujan?” tanyanya lagi sambil menaruh gelas dan duduk di tepi
ranjang. Aku hanya tersenyum menatapnya tanpa beranjak dari tempatku berdiri.
“ Hujan di sini ndak
sebagus hujan di rumah, Mbak.” Mbak Pita menatapku bertanya- Tanya.“ Hujan di
sini itu seolah marah. Marah pada mereka yang sedang bermain dengan
kekuasaannya.”
“ Hmmmm, mulai deh. Ayu, kamu kan tahu kalau mbak itu
cuma Guru Sastra.
Jadi pliss jangan ngomongin hal- hal yang mbak ndak ngerti, oke!”
“ Tapi kita juga ndak
boleh menutup mata dan telinga begitu saja to mbak. Mbak lihat sendiri bagaiman
Indonesia saat ini. Kayak tadi pagi, mbak juga nonton berita tentang gosipnya
Andi Malarangen yang..”
“ Ayu, stop!” potong mbak Pita. “ Dari dulu mbak ndak suka politik, mbak ndak tahu seperti apa itu politik, dan
mbak ndak mau tahu apapun tentang
politik. Jadi jangan ngajak mbak ke hobby
kamu yang suka diskusi tentang politik itu.” mbak Pita bangkit, kemudian
beranjak meninggalkan kamarku.“ Jangan lupa diminum susunya.” pesannya sebelum
menutup pintu.
Aku menatap jauh
ke angkasa yang muram.Tak ada yang bisa diajak bicara di sini, tak ada yang
seperti kalian sahabat- sahabatku. Aku rindu bagaimana kita berdiskusi dulu,
mengkritisi pemerintah, menyalahkan mereka semau kita, kemudian iseng membuat
artikel hasil diskusi yang kita tempel secara
ilegal di mading- mading sekolahan. Aku rindu saat kita membaca
koran bersama, menyumpah serapahi para petinggi yang tertangkap karena tindak
pidana korupsi, kemudian geram setengah mati karena ternyata mereka yang
tertangkap tetap bisa hidup mewah di dalam jeruji besi. Lalu dimana keadilan
itu?Apa bedanya tertangkap dengan tidak tertangkap?
*****
“ Mereka bilang negara kita adalah negara hukum. Tapi
kenyataannya apa? Keadilan mudah saja dibeli, para koruptor- koruptor itu masih
bisa tertawa lebar di dalam jeruji besi.Harusnya mereka mendapat hukuman
setimpal karena telah memakan uang rakyat dan menjadikan rakyat semakin
sengsara.”Ucap Surya-sahabatku- suatu ketika dalam forum diskusi kelas.
“ Ketidakadilan juga terlihat jelas pada pembangunann
sarana dan prasarana pendidikan, buktinyatanya adalah kita. Sekolah kita yang
terletak di daerah pinggiran ini.”Sambungku, semua mata mengamati ruang kelas
kami.Cat tembok yang mengelupas dan dindingnya yang keropos, lantai kayu yang
telah lapuk, genting yang seolah mengancam bisa ambruk kapan saja, dan meja
kursi yang sempal.Semua seolah
merintih perih.“ Jangankan menjamah sekolah kita ini, mencium baunyapun tidak!
Atau mungkin mereka buta kalau ada sekolah di daerah ini!”
“ Tapisaya dengar di
tahun 2010 ini pemerintah sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk
pendidikan. Bukankah itu kabar baik untuk sekolah kita?Bukankah itu menandakan
bahwa pemerintah juga tidak tutup mata terhadap pendidikan?Kita juga tidak
boleh terus- menerus menyalahkan pemerintah, karena faktanya pemerintah juga
berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.” Sanggah Han, ketua
kelas kami.
“ Kita lihat saja, Han! Apa dana itu akan utuh turun
ke perbaikan pendidikan! Bukannya kamu juga tahu bahwa terlalu banyak tikus di
negara kita?”Surya angkat bicara lagi.
“ Baiklah anak- anak, diskusi hari ini cukup.
Terimakasih, kalian sangat luar biasa. Satu yang harus kalian ingat, meskipun
SMA kita ini bukanlah SMA yang unggul, bukan SMA yang memiliki fasilitas lengkap,
kalian tidak boleh memandang rendah diri kalian sendiri yang bersekolah di
sini. Kalian harus buktikan bahwa kalian adalah agent of change yang akan merubah kebobrokan negara. Kalian pantas
untuk itu.Selamat siang, dan sampai jumpa besok.” Pak Widhi, Guru
PKn kami mulai membereskan buku dan beranjak meninggalkan kelas.
Setetes air jatuh
dari dahan yang basah. Membekas pada selembar kertas yang kugenggam.Aku
mendongak pada dahan di atasku, mungkin sisa hujan semalam. Kemudian aku
mengamati setitik bekas air di kertasku. Hanya titik itu yang basah, tidak
menjamah yang lain, tidak membasahi seluruh permukaan kertas.Mungkin pemerintah
juga seperti itu.Hanya mengenggam yang dekat, hanya memeluk yang bisa tergapai,
hanya peduli pada yang terlihat.Lalu bagaimana dengan
kami yang notabene orang pinggiran
ini?Bagaimana dengan semangat kami?Bagaimana dengan mimpi- mimpi kami?Seolah
kami hanya anak tiri, seolah kami bukan bagian dari negara ini.Inikah yang
disebut keadilan?Inikah yang disebut negara hukum? Ah! Entahlah, aku begitu
lelah dengan semua pertanyaanku sendiri. Menggagas negara ini hanya akan
membuatku semakin marah dan terluka.
Aku menyusuri
jalan setapak di tengah sawah sambil menenteng sepatu.Jalannya terlalu becek,
aku tidak mau sepatuku kotor.Sesekali aku beretegur sapa dengan orang- orang
yang aku temui di sawah, inilah kehidupan di desa, ‘guyup rukun loh jinawi’. Kami semua bisa saling mengenal satu sama lain dan bagaikan saudara. Meskipun hidup dalam
kesederhanaan kami tetap saling membantu dan memberi, karena kami yakin bahwa
memberi tak akan menjadikan kami semakin miskin, meski sebenarnya kami sudah
miskin. Sampai rumah, aku melihat Ayah sedang membuat kandang ayam. Ini untuk
mengisi waktu luangnya selain pergi ke sawah dan ke Sekolahan.
Ayah adalah Tukang Kebun sebuah Sekolah Dasar yang terletak di Kabupaten.
Biasanya beliau berangkat subuh dan pulang menjelang ashar karena jarak desa
kami dengan Kabupaten cukup jauh.Aku segera masuk ke
dalam, ganti baju dan kemudian membantu ayah.
“ Ayah, nanti setelah lulus SMA Ayu pengen kuliah kaya
mbak Pita.” Ucapku sambil menghaluskan bambu dengan pisau.Lama, ayah hanya
diam. Kemudian menghela nafas panjang.
“ Kamu kan tahu, nduk.
Kalau semakin lama, biaya pendidikan itu semakin mahal. Ayah ndak bisa janji soal itu, menguliahkan
mbakmu saja ayah harus hutang sana sini.” Sesak rasanya mendengar jawaban
ayah.“ Tapi kalau kamu pinter dan bisa mencari beasiswa, itu beda lagi
ceritanya. Makanya, belajar yang rajin, nduk.
Ayah juga kepingin lihat kamu jadi sarjana.”
Fajar
menyingsing dengan anggun di ufuk timur, menerpa dedaunan yang basah.Lagi- lagi
karena hujan, bahkan hujan juga selalu menbuat becek jalanan.Tapi aku tak
pernah membencinya, aku tak pernah berhenti mengagumi hujan di desaku yang
hijau.Aku bersiap menenteng sepatuku untuk melewati jalanan yang becek, tapi
tiba- tiba sebuah ide muncul di kepalaku.Aku segera berlari ke dalam rumah
mengambil dua buah kantong plastik.Kupakai sepatuku, kemudian kubungkus dengan
kantong plastik.Nah, dengan begini aku bisa berjalan bebas tanpa takut sapatuku
kotor.Terlihat lucu memang, tapi bukankah ini ide yang tidak
mengecewakan?Dengan mantap aku melangkah meninggalkan beranda rumah, terdengar
berisik suara kantong plastik, tapi tak apalah, ini seru.
Pagi
ini sekolahanku tampak sibuk, guru- guru dan para siswa sibuk mengeluarkan
buku- buku yang tampak kuyu, menjemurya di halaman sekolah.Aku
menatap bangunan tua di hadapanku, dua tiang penyangganya roboh, genting yang
kemarin seolah mengancam kini telah jatuh berserakan di lantai,
berantakan sekali.Sudah beberapa minggu ini memang sekolah
kecilku menghadapi terpaan hujan deras.Dan bukan hal yang mengejutkan lagi jika
hal seperti ini menimpa sekolahku. Aku sudah hampir dua tahun di sini, dan di
musim hujan tahun lalu, hal yang sama juga menimpa sekolahku yang malang ini.
Beberapa anak tertawa geli memandangku, mungkin karena kantong plastik yang
masih membungkus sepatuku, tapi aku hanya diam memikirkan kemungkinan
diliburkannya sekolah hari ini. Bagi siswa biasa sepertiku, tentu saja libur
sekolah adalah hal yang menyenangkan.
“ Libur sehari. Setelah itu, untuk sementara waktu kita
akan meminjam rumah Pak Kades buat belajar.” Ucap Surya yang tiba-tiba berdiri
di sampingku. Aku hanya menoleh sekilas, kemudian kembali memandang kesibukan
di depanku.
“ Ayu.” Panggil Bu Rum, guru ekonomiku.
“ Iya, Bu?” jawabku sopan
“ Olimpiade seminggu lagi, tapi buku- buku yang
seharusnya jadi bahan belajar kamu basah semua dan tulisannya kabur. Beberapa
juga rusak. Hari ini kamu ke Perpus Pusat ya! Kamu bisa pinjam buku di sana
untuk belajar.”
“ Oh iya, Bu. Sepulang dari sini saya akan ke Perpus
Pusat.”
“ Belajar yang rajin. Bawa nama baik sekolah kita.”
Kemudian Bu Rum pergi dengan meninggalkan sebuah senyum penuh harap.
Seminggu
lagi akan ada Olimpiade Sains Nasional, dan kebetulan aku mewakili sekolah
dalam mata pelajaran ekonomi. Kurang lebih tiga bulan sudah aku digembleng
pelajaran ekonomi dari kelas X, XI, dan XII. Dari semua pelajaran itu yang
paling susah adalah materi kelas XII, karena aku baru kelas XI dan sama sekali
tidak memiliki gambaran tentang pelajaran ekonomi kelas XII. Jurnal
Penyesuaian, Jurnal Pembantu, HPP, Jurnal Pembalik, dan apalah itu, semua
membuatku pusing. Kesenangan libur seketika menguap, hari ini aku mungkin akan
lebih lelah.
“ Semangat! Aku sama Ima bakalan nemenin kamu nanti.”
Ucap Surya menyemangatiku, dan lagi- lagi aku hanya menoleh sekilas dan
tersenyum tipis padanya.
Aku,
Surya, dan Ima berjalan menyusuri jalan setapak yang becek dan telah rusak menuju
terminal terdekat dari desa kami. Jaraknya sekitar lima kilometer, setelah itu
kami naik bus sampai Kabupaten, lalu naik angkot sampai Perpus Pusat. Hanya ada
satu Perpustakaan Umum di tempatku, itupun jaraknya sangat jauh. Tanpa buang
waktu aku segera mencari buku yang aku perlukan, Surya asyik membaca koran, dan
Ima terlena oleh rak novel.
“ Eh, Yu! Liat deh.” Surya mengejutkanku dengan menenteng
koran tepat di depan wajahku. Ia menunjuk satu judul besar di koran itu. “
Kemendiknas dan status disclaimer-nya”.
Terdapat dugaan penyelewengan dana APBN 2010 pada Kemendiknas. BPK menemukan
kebocoran anggaran senilai 763 miliar, dimana terdapat 43 rekening liar senilai
26,4 miliar, 69 miliar belum disetor ke kas negara, 62 miliar belum dibayarkan
kepada tunjangan profesi dan beasiswa. Hal ini menunjukkan realisasi yang tidak
benar dari dana APBN di sektor pendidikan.
“ Ini nih!” seru Surya, membuat orang- orang yang berada
di dalam perpus sontak menyuruhnya diam dengan isyarat ‘ssssttt’, Surya menoleh
kanan dan kiri sambil menganggukkan kepala, tanda meminta maaf, Ima yang
mendengar Surya histeris segera mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi. “
Ini nih yang bikin sekolah kita ambruk
tadi pagi! Bisiknya dengan nada jengkel. “ Gimana sekolah kita yang sudah renta
itu ndak ambruk! Wong dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki sekolah kita
saja malah dibelokkan jalannya!”
“ Bener, Ya.” Sambungku. “ Dan bukannya disclaimer itu berarti bahwa lembaga
memiliki pengawasan internal yang lemah. Nah, kalau pengawasannya saja sudah
lemah, itu berarti memberi kesempatan emas pada para ‘pemakan’ uang rakyat to?
Menyedihkan banget kalau kementrian yang berlabel Tut Wuri Handayani itu justru menyelewengkan dana yang seharusnya
digunakan untuk memajukan pendidikan. Kalau begini, mana bisa diadakan
perbaikan infrastruktur pendidikan? Ah, pemerintah itu memang hanya bisa
mengumbar janji tanpa realisasi!” lanjutku, Ima yang notabene tidak suka memikirkan negara hanya manggut- manggut.
Seolah
waktu tak mau berhenti berlari, hari Olimpiade Sains Nasional tiba. Aku dan
beberapa teman serta adik kelas berangkat ke sebuah SMA favorit di pusat kota.
Disanalah Olimpiade Sains Nasional diadakan. Kami berangkat pukul lima pagi
berhubung jarak yang jauh, dan sampai sekitar pukul delapan. Olimpiade dimulai
pukul sembilan, jadi aku masih memiliki waktu sekitar setengah jam sebelum
persiapan. Aku berkeliling sekolah itu, dan betapa irinya hati ini. Sekolah itu
besar, tingkat dua pula. Terdiri lebih dari dua puluh ruangan. Lantai satunya
didominasi oleh laboratorium- laboratorium dengan fasilitas lengkap, aku
ternganga melihat alat- alat yang disimpan di dalam kaca transparan, terlihat
berkilau dan penuh dengan sains. Tak ada cacat sedikitpun dari bangunan itu,
semua tampak mewah dan ‘wah’. Aku
menaiki tangga dan melihat- lihat ruang kelas, dan untuk yang kesekian kalinya
hati ini teriris. Kelas itu sudah dilengkapi dengan proyektor, dan ber- AC, terdapat sekitar empat AC dalam satu kelas. Aku berfikir,
bagaimana global warming bisa mereda
kalau seperti ini keadaannya. Di sudut lorong terdapat kamar mandi yang tak
kalah membuatku sesak. Bahkan kamar mandi di sinipun dikramik dengan indahnya,
bagi kami yang notabene anak desa
pasti akan betah di sini meskipun hanya di kamar mandi. Aku sangat yakin,
siapapun yang bersekolah di sekolah ini pasti adalah orang- orang yang berduit.
Dan
seperti inilah pendidikan Indonesia, mereka yang berduit bisa mengenyam
pendidikan yang baik, sementara kami yang orang tak punya hanya mendapat
pendidikan yang ala kadarnya. Tapi dengan egois pemerintah tetap menuntut kami
menjadi generasi yang berpotensi, menuntut kami untuk mengikuti standar
aturannya, sementara mereka hanya mampu menuntut tanpa mengulurkan tangan.
Sepulang dari SMA itu, satu hal yang ingin aku lakukan, yaitu menangis.
Bagaimana hati ini tidak sesak saat mendapati betapa berbedanya sekolah kecilku
dengan sekolah gedong itu. Bagaimana bisa pemerintah menerapkan standar yang
sama sementara yang tersedia untuk kami begitu berbeda. Inikah yang disebut
pemerataan pendidikan? Inikah yang disebut keadilan? Inikah yang disebut bangsa
yang merdeka? Ah! Entahlah!
Dua
minggu berlalu setelah Olimpiade itu, pengumuman juara telah diumumkan. Aku
menempati juara II Tingkat Provinsi, itu adalah hal yang luar biasa bagi
sekolah kecil kami, karena itu merupakan bukti bahwa kami mampu meski dalam
kondisi yang serba terbatas.
“ Percayalah, fasilitas memang penting untuk mendukung
lancarnya proses pendidikan. Tapi, fasilitas bukan poin utama untuk
menjadikanmu orang hebat, itu semua tergantung pada bagaimana kamu
menyikapinya.” Kata- kata itu adalah kata- kata yang paling bijak yang pernah
kudengar dari Surya.
*****
Cahaya mentari
pagi menembus teralis jendela kamar, membangunkanku dari tidur yang tak
bermimpi. Di luar sana, transportasi hilir mudik membisingkan jalan. Tak ada
langit biru di Kota ini, semua tertutup oleh awan kelabu yang berasal dari
asap- asap pabrik industri, asap transportasi, dan polusi udara lainnya. Aku rindu
kampung halamanku, aku rindu sawah yang terhampar luas, aku rindu sejuknya
udara yang dapat kuhirup, dan aku rindu semilir angin yang membelai lembut.
“ Ayu.” Terdengar suara mbak Pita dari balik pintu. Aku
segera membuka pintu, dan membiarkan mbak Pita masuk. “ Mbak mau pulang,
mumpung dapat cuti dari Bos. Kamu mau ikut pulang ndak?”
“ Mau mbak.” Jawabku spontan.
“ Kuliah kamu gimana?”
“ Ini kan minggu tenang mbak, jadi Ayu libur.”
“ Oh iya mbak lupa. Ya sudah, kamu siap- siap. Kita
pulang naik kereta.”
Merdu
nyanyian burung kenari seolah menyambut kepulangan kami, tempat ini masih
seindah dulu, masih sehijau dulu, dan masih memiliki bau udara yang sama. Hanya
sekarang jalanannya sudah sedikit diperbaiki, tidak terlalu lebar, tapi cukuplah
untuk transportasi angkot, jadi setidaknya sekarang kami tidak harus jalan lima
kilometer untuk sampai di terminal.
Siangnya,
aku tidak sabar ingin melihat perkembangan sekolahku dulu. Dan sesampainya di
sana, aku hanya bisa menelan ludah. Satu tahun setelah kelulusanku, tak ada
yang banyak berubah dari sekolah kecil ini. Temboknya yang keropos hanya
ditutup dengan semen ala kadarnya tanpa dicat. Kayu penyangga atap ada di
berbagai sudut. Jendelanya hanya berupa papan- papan yang dipaku sembarangan,
tetap menyisakan cela. Sepertinya pemerintah tidak memiliki TV sehingga mereka
tidak bisa tahu keadaan daerah pinggiran seperti ini. Sudah hampir setahun aku
meninggalkan sekolah ini, tapi apa? Tak ada yang berubah, adapun itu hanya
sedikit dan itu pun dari masyarakat sekitar yang tak ingin membiarkan sekolah
ini ambruk. Menurut keterangan yang
aku dapat, sumbangan dari pemerintah tidak cukup untuk memenuhi fasilitas
sekolah serta memperbaiki bangunannya, sehingga pihak sekolahan memutuskan
untuk memenuhi fasilitas terlebih dahulu dan menomor duakan pembangunan
sekolah.
“ Ada yang bisa saya bantu mbak?” seorang pria bertanya
dengan sopan, dan aku terkejut saat menoleh.
“ Surya?”
“ Apa kabar, Ayu?”
“ Baik, kamu? Kenapa ada di sini? Sibuk apa sekarang?”
Kami berbincang- bincang sambil duduk di beranda
sekolahan. Dari situ aku tahu bahwa dia sekarang kuliah di Universitas Terbuka
yang terletak tidak jauh dari Kabupaten. Dia juga sering ke Sekolah itu untuk
sekedar bantu- bantu mengajar, tanpa digaji tentunya.
“ Bagaimana Jakarta? Pasti kamu senang sekali bisa kuliah
di sana, apalagi kamu mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang sesuai dengan
cita- cita kamu, menjadi seorang jurnalis.”
“ Ah, Jakarta ndak
senyaman di sini, Ya. Jakarta ndak
seteduh disini.” Surya hanya tersenyum simpul mendengar ucapanku.
“ Sudah dengar berita hari ini?” tanyanya.
“ Apa?”
“ Tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh
yang bilang kalau akan mengedepankan pembangunan infrastruktur pendidikan di
daerah terdepan.”
“ Oh, berita itu. Iya sudah, lagi- lagi janji seperti
itu. Hmmhh” aku mengehela nafas.
“ Kalau ndak
salah, pemerintah mengeluarkan dana sekitar 303 triliun rupiah untuk anggaran
pendidikan di tahun 2012 ini. Wakil presiden kita juga bilang kalau akan ada
sekitar 172.000 ruang kelas yang akan diperbaiki, termasuk sekolah ini juga
akan kecipratan dana itu.”
Di tahun
2012 ini pemerintah mengucurkan dana sekitar 303 triliun untuk pembangunan
infrastruktur pendidikan di indonesia. Dan rencananya, yang diprioritaskan
adalah daerah terdepan alias daerah pinggiran yang notabenemerupakan daerah yang sulit dijangkau dan biasanya menjadi
perbatasan negara. Rencananya 303 triliun itu nanti akan difokouskan pada
pendanaan BOS dan sekolah rusak. Dan seharusnya dengan dana yang sebegitu besar,
Indonesia bisa memperbaiki infrastruktur pendidikan secara bertahap.
“ Tapi apa iya masyarakat bisa percaya sama Kemendikbud
sekarang, Ya? Kita lihat saja di tahun 2010 kemarin, status disclaimer itu sudah membuat masyarakat ndak percaya lagi sama omongan
pemerintah.” Ucapku sangsi.
“ Kita lihat saja nanti, Yu. Apa 303 triliun itu nanti
akan utuh turun untuk pendidikan Indonesia. Kita hanya bisa berharap.”
Langit
senja yang jingga seolah mengajak kami untuk terus berharap. Semoga omongan
pemerintah itu tidak hanya menjadi shympony yang merdu namun tak berbunyi.
Melainkan menjadi shympony merdu yang dapat dinikmati semua orang. Kita hanya
mampu berharap.
-Tamat-

0 komentar:
Posting Komentar