Satu
Bola
basket itu memantul- mantul dengan lincahnya. Terkadang dia melayang dan dengan
sempurna masuk ke dalam ring. Membuat senyum di bibir pemiliknya tersimpul-
simpul. Peluh telah sempurna membuat kaos cowok ini basah, matahari juga
semakin terik. Tapi dia masih enggan meninggalkan sepetak lapangan basket di
halaman rumahnya. Sekali lagi dia bersiap untuk melemparkan bola basket ke
dalam ring, tapi saat dia sedang berjinjit tiba- tiba terdengar suara cempreng
dari pagar samping rumah.
“
Riva!” Kepala seorang cewek menyembul dari balik pagar. Riva yang tadinya sudah
berjinjit sampai terplese saking kagetnya. Dengan puas cewek itu tertawa
terbahak- bahak melihat Riva terjatuh.
“
Sialan lo! Kaget nih gue!” Omel Riva. Tapi muka masam Riva justru membuat cewek
manis itu nyengir makin lebar. Beberapa saat kemudian, cewek itu muncul dari
pagar depan dan menghampiri Riva yang masih PeWe dengan pose keplesetnya.
“
Makanya kalo main basket tuh ati- ati. Ato jangan- jangan lo nggak bisa main
basket ya? Ck ck ck, kalo nggak bisa main tuh ya nggak usah main, jatoh kan
jadinya.” Cerocos cewek itu tanpa dosa.
“
Rese lo Vi!” Sungut Riva kesal
“
Haahaha….. udah- udah. Sini, gue bantuin.” Cewek itu mengulurkan tangannya,
baru saja Riva ingin meraih tangan itu, tiba- tiba cewek itu menarik tangannya
lagi. “ Eh, nggak usah ding. Udah gede ini, bisa bediri sendiri kan?!” Bola
mata jahil itu tersenyum melihat Riva yang makin jengkel. Perlahan Riva
berdiri, senyum licik tersungging di bibirnya.
“
Lo tau nggak….” Kata- katanya menggantung. Ia menundukkan wajah hingga sejajar
dengan wajah cewek itu. “ Gue kalo marah bisa sampe nyium orang loh.” Mata
elang itu menyapu wajah cewek itu, membuatnya tercekat. Tapi hanya sedetik,
detik berikutnya cewek itu justru tersenyum menantang.
“
Coba aja kalo berani.” Ucapnya, kemudian dia berlari menjauhi Riva. “ Coba aja
kalo elo bisa, tangkep gue! Wek wek wek!!” Ejeknya sambil mnjulurkan lidah,
lengannya berkacak pinggang lengkap dengan menggoyangkan pinggul ke kanan dan
ke kiri. Jelmaan bebek banget, riva jadi trsenyum geli melihat tingkah polah
sahabatnya itu.
“
Vira, awas ya lo! Kalo kena bakalan gue jadiin bebek panggang!” Ancam Riva.
Dikerjarnya Vira kemanapun dia berlari, awalnya susah banget nangkep bebek satu
itu, tapi akhirnya kena juga. Dan hal pertama yang dilakukan Riva adalah
mengacak- acak rambut Vira sampe kaya sarang ayam. “ Sini lo, mau gue jadiin
bebek panggang!” ucap Riva sambil menggandeng lengan Vira.
“
Tega bener lo Va.” Vira manyun
“
Hahahah enaknya gue bumbuin apa yaa?”
“
Riva!”
“
Hahahha. Udah sarapan belom?
“
Belom.” Vira meringis
“
Hmm gimana sih…. Masak iya gue sarapan bebek yang belom sarapan, bisa- bisa
nggak ada dagingnya dong. Ya udah, sarapan dulu yuk.” Riva merangkul sobatnya
itu menuju rumah
“
Va, ngomong- ngomong PeDe banget lo ngrangkul- ngrangkul gue, ketek lo bau
tauk!” Protes Vira sambil menutup hidungnya.
“
Bau apanya? Orang wangi gini kok.” Dengan sengaja Riva mempererat rangkulannya.
“
Riva! Jorok!”
“
Hahahaha. Ini bau orang sehat tau nggak sih.” Riva tergelak, membuat Vira
manyun lima senti.
Selesai
sarapan, Vira segera membereskan meja makan dan mencuci piring dengan mama
Riva. Dan seperti kebanyakan cewek, kalo uadah ngumpul pasti rame, nggak tau
ngobrolin apa, asyik sendiri dengan obrolan mereka, udah kaya ibu dan anak.
Sedangkan Riva, selesai sarapan langsung main game sama Abangnya. Sesekali
terdengar riuh ramai pertengkaran mereka, karena pasti ada saja yang curang
diantara mereka.
“
Ah! Nggak asyik nih! Bang Revan curang mulu!” protes Riva
“
Loh! Curang gimana sih! Emang gitu permainannya kok.”
“
Apa apaan! Dari tadi gue mulu yang kalah!”
“
Hahaha ya itu sih elonya yang nggak biasa maen”
“
Bete ah! Udahan gue!”
Vira
muncul dengan membawa cemilan dan minuman dingin.
“
Bang, kita punya pembokat baru ya?” goda Riva
“
Kayaknya iya, Va.” Revan menanggapi juga candaan adiknya. Mendengar ejekan itu,
Vira segera balik badan dan bersiap kembali ke dapur.
“
Eh eh eh! Mau dibawa kemana?” Riva menyusul Vira dan berdiri di depannya
“
Udah ngatain gue pembokat, terus masih ngarep ini gue kasih ke elo! Huh!”
sungut Vira. “ Minggir- minggir! Mau gue balikin ke dapur!”
“
Eits! Ya jangan dong.” Riva mengambil alih nampan dari tangan Vira. “ Mubadzir
kalo makanan dibuang- buang.” Kemudian membawanya ke meja, Vira mengikutinya
sambil tersungut- sungut.
Sorenya,
mereka mengayuh sepeda menuju taman komlpeks, dengan Vira diboncengan Riva
tentunya. Karena meskipun Vira memohon sampe sujud- sujud biar bisa bawa sepeda
sendiri, Riva nggak bakalan ngizinin. Jadi ya ikhlas aja kalo cuma bisa duduk
manis di boncengan. Riva menyusul abangnya yang sudah di depan, kemudian
menjajarinya.
“
Berani balapan nggak, Bang?” tantang Riva
“
Balapan? Terus Vira gimana? Ditinggal gitu?
“Nggak
mauuuuuuuuuuuuu! Ikut!” Protes Vira seketika
“
Diem bebek!” omel Riva. “ Ya nggak lah, Bang. Nih bebek satu tetep gue
boncengin.”
“
Yakin lo? Kalo gitu sih udah bisa ditebak siapa pemenangnya.”
“
Jangan yakin dulu, Bang.”
“
Oke! Kita liat aja!” senyum keyakinan merekah di bibir Revan. “ Eh! Tapi Vira
beneran nggak papa diajak ngebut- ngebut?”
“
Dia Cuma tinggal duduk, Bang. Percaya sama gue.” Riva melirik Abangnya,
kemudian sedikit menoleh ke belakang. “ Ya kan, Vi?”
“
He- eh.” Vira mengangguk, senang.
“
Start dimulai dari sini.” Jelas Riva sambil berhenti di dekat bangku taman
bercat hitam. “ Kita nggak usah masuk taman, di jalan aja, yang lurus. Kan udah
sore nih, jadi jalan kompleks juga udah sepi. Nah, kita musti nyampe ujung
kompleks sono, terus balik lagi ke sini. Jadi, garis start adalah garis finish.
Gimana?” Terang Riva.
“
Oke!”
Pertandingan
dimilai. Dengan cepat dan konstan, Riva mengayuh sepedanya, begitu juga dengan
Revan yang terlihat lebih mudah karena tanpa beban. Jarak sampai ke ujung
kompleks kurang lebih setengah kilo, jadi kalu bolak balik berarti satu kilo.
Revan mempercepat kayuhannya, kemudian terkekeh- kekeh mendahuluai adiknya.
Vira manyun di boncengan dan meminta Riva untuk mempercepat kayuhan, tetapi
Riva tidak melakukannya, dia tetap santai dengan kayuhannya, menikmati indahnya
sore itu. Beberapa saat kemudian Revan menikung, dan kembali ke garis finish.
Dia tertawa mengejek saat berpapasan dengan Riva dan Vira, sampe menjulurkan
lidah segala. Tak lama kemudian Riva menikung menyusul Revan. Revan semakin
mempercepat kayuhannya, tapi saat tinggal beberapa meter lagi, tiba- taiba
kakinya gemetar, pegal, alhasil kayuhannya melambat drastis. Riva sudah menduga
akan hal ini, dia tahu betul Abangnya itu nggak suka olah raga. Jadi, kalo cuma
ngalahin Abangnya balap sepeda, itu mah kecil. Senyum tersimpul di bibirnya,
ini dia saatnya.
“
Pegangan, Vi.”
“
Haa?? Apa??”
“
Pegangan!”
“
Oh.” Vira melingkarkan tangannya di pinggang Riva, menyatukan jemarinya dengan
erat. Sedetik kemudian Riva meluncur dengan kencang. Kayuhan yang tadinya
konstan menjadi cepat, lebih cepat dan sengat cepat. Kemudian saat Revan
tinggal satu langkah lagi, tiba- tiba Riva sudah mendahului dengan sangat mulus
dan tiba di garis finifh.
“
Yeeee… menaaang!!” Sorak Vira yang lansung melompat dari boncengan dilanjutkan
aksi lompat- lompat kaya kelinci. Asli! Nih cewek satu cocok banget kalau
ditaruh di kebun binatang. Tadi pagi udah kaya bebek terus sekarang kaya
kelinci.
Revan
tiba dengan nafas ngos- ngosan, hampir kehabisan oksigen lebih tepatnya. Dia
menepikan sepeda kemudian menjatuhkan tubuhnya di bangku taman. Tepar.
Sedangkan Riva masih segar bugar seperti habis sepedaan biasa.
“
Bang, jajanin es krim dong. “ pinta Riva saat meliha tukang ice cream
mendekat.
“
Loh! Tadi kan nggak ada taruhan yang kalah jajanin es krim.” Protes Revan
“
Yaelah, Bang. Jajanin, bukan tarohan. Lagian tarohan itu kan dosa!”
“
Iya, Bang. Jajanin dong, cuma es krim ini. Yaa, Baang!” Kini Vira yang merajuk
sudah duduk di samping Revan
“
Heeemmmm… Ini ni resiko main sama anak
kecil! Suruh jajanin muluu!” Gerutu Revan, Riva dan Vira hanya cengengesan.
Sambil
melahap ice cream, mereka bercerita dengan riang. Sesekali mereka
tertawa, saling mengejek dan berebut ice cream satu sma lain. Mentari jingga
ikut tersenyum saat beranjak kembali ke peraduan.
Matahari
telah pulang ke peraduannya, kini gelap mengambil alih kekuasaan. Di kamar
kostnya seorang cowok terlihat sedang asyik berkutik dengan laptop. Dia sedang
serius menggarap proposal yang harus diajukan besok. Ada acara yang ingin
diselenggarakan fakultasnya, dan dia kebagian membuat proposal. Acara yang
cukup besar, jadi segala sesuatunya harus se- perfect mungkin. Sekali lagi
diperiksanya proposal itu, setelah yakin benar, proposal itu siap di print. Di
sampul proposal itu terlogo sebuah Universitas yang cukup ternama, Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta. Diperiksanya lagi lembar demi lembar, setelah merasa
cukup, dimasukkannya proposal itu ke dalam tas.
“
Ki, udah makan belom?” sebuah kepala menyembul dari balik pintu.
“
Belom. Mau cari makan ya? Bentar gue beresin ini dulu.”
“
Gue tunggu di bawah ya.” Kemudian pintu ditutup.
Di
kamarnya, Vira sedang asyik dengan PR matematikanya. Senyum manis tersimpul di
wajah ayunya saat dengan lancar penanya menari di atas kertas. Tapi detik
berikutnya, bibirnya manyun lima senti gara- gara penanya macet di tengah jalan
alias nggak nemu jawabannya. Sesaat dia putus asa, tapi kemudian dicobanya lagi
hingga bukunya penuh dengan coretan. Bentar- bentar ngitung, trus hapus,
ngitung lagi, hapus lagi, tapi belum juga nemu jawaban yang pas. Ditariknya
nafas dalam- dalam, dikerjakannya lagi soal itu, dan akhirnya ketemu juga
jawabannya. Saking senengnya nih cewek sampe kaya abis dapet lotre, teriak-
teriak bangunin kucing tetangga. Bi Minah yang lagi beres- beres sampe lari ke
kamarnya.
“
Aya naon, Neng? Aya naon?” Tanya Bi minah, panic.
“
Nggak papa kok, Bi. Heheh Nggak papa.” Vira meringis
“
Eleh- eleh. Si Eneng mah bikin Bibi khawatir wae. Bibi kira teh Eneng kenapa-
napa.”
“
Nggak papa kok, Bi. Lagi seneg aja.”
“
Ya sudah atuh, kalau begitu Bibi lanjut beres- beres dulu, Neng.” Pamit Bi
Minah. Vira hanya tersenyum dan mengangguk mempersilahkan pembantunya itu
pergi. Kemudian dia kembali ke bukunya, menyelesaikan PR yang masih bejibun.
Beberapa saat kemudian handphonenya berbunyi, tepat ketika dia menuliskan angka
terakhir di bukunya.
“
Halo.” Sapa Vira girang sambil menutup bukunya.
“
udah makan belum, sayang?” Tanya suara di seberang sana.
“
Udah. Papa udah makan belum?”
“
Ini papa baru selesai dinner sama klien. Sekarang lagi perjalanan ke hotel.
Kamu lagi apa? Kenapa nggak cepet tidur?”
“
Vira abis ngerjain PR matematika, Pa. Iya, ini juga udah mau tidur kok.”
“
Iya udah, cepet istirahat ya, sayang. Papa denger seharian ini kamu main sama
Riva, pasti capek.”
“
Hehe. Nggak kok, Vira seneng.”
“
Iya. Udah, cepet tidur.”
“
He- eh. Vira sayang Papa.”
“
Papa juga sayang Vira.”
Panggilan
berakhir, Vira menarik selimutnya dan pergi ke alam mimpi.
Udara
pagi Kota Bandung menusuk kulit, terasa sampai ke tulang- tulang. Padahal
matahari bersinar dengan cerahnya di ufuk timur, tapi udaranya begitu dingin.
Riva sudah berdiri di depan rumah Vira saat Bi Minah membukakan pintu.
“
Eh, den Riva. Silahkan masuk, Den.” Bi Minah memprsilahkan, kemudian kembali ke
dapur.
“
Pagi amat.” Sapa Vira yang sedang menuruni tangga.
“
Mau numpang sarapan nih. Hehe.” Riva meringis.
“
Pasti di rumah bikin nasi goreng.” Tebak Vira
“
Yo’a, Lo kan tau kalo gue itu pantang banget sarapan nasi goreng.”
“
Soalnya nasi goreng itu bikin ngantuk.” Sambung Vira.
“
Betull!!” Riva membenarkan. Dari dulu Riva emang paling nggak mau kalo disuruh
sarapan nasi goreng, soalnya nih anak punya teori kalo nasi goreng itu bikin
ngantuk. Dan sarapan nasi goreng itu adalah hal fatal, karena bisa- bisa dia
molor di kelas. Nggak lucu dong ya kalo penyandang juara satu ini molor di kelas.
“
Huuu.. dasar!” gerutu Vira. Bi Minah mulai menyiapkan sarapan. Tak lupa
dibuatkannya dua gelas susu untuk dua anak berseragam putih abu- abu ini.
“
Bokap belom pulang?” Riva celingukan sambil melahap sarapannya.
“
Belom, paling ntar sore.”
“
Ohh…” Riva melanjutkan sarapanya. “ Jangan lupa, abis ini minum obat.”
“
Iya! Bawel lo, kaya Bokap gue aja.” Sungut Vira.
************

0 komentar:
Posting Komentar