Selasa, 25 Desember 2012
Filsafat Pendidikan
ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI & AXIOLOGI
A. ONTOLOGI
Ontologi merupakan salah satu dari dari garapan bidang filsafat yang mengkaji sesuatu yang bersifat konkret, mmenetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat relitas yang ada, baik berupa wujud fisik maupun nonfisik. Objek telaah ontology adalah semua yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontology membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta yang universal. Ontology berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
1. Objek Formal
Objek formal ontology adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran- aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomophisme.
2. Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam Ontologi:
· Abstraksi Fisik => menampilkan keseluruhan sifat khas suatu objek.
· Abstraksi Bentuk => mendiskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis.
· Abstraksi Metaphisik => mengetengahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas.
Implikasi pandangan ontologi di dalam pendidikan ialah bahwa dunia pengalaman manusia yang harus memperkaya kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isisnya dalam arti sebagai pengalaman sehari-hari. Melainkan sebagai suatu yang tak terbatas, realitas fisis, spiritual, yang tetap dan yang berubah-ubah (dinamis). Juga hukum dan sistem kesemestaan yang melahirkan perwujudan harmoni dalam alam semesta, termasuk hukum dan tertib yang menentukan kehidupan manusia.
Ontology menurut Lois O. kattsoff yang dibagi menjadi empat bagian yaitu:
1. Ontology bersahaja adalah sesuatu dipandang sewajarnya dan apa adanya.
2. Ontology Kuantitatif adalah sesuatu yang dipertanyakan mengenai tunggal atau jamaknya.
3. Ontology Kualitatif adalah sesuatu yang berangkat dari pertanyaan apa yang merupakan jenis pertanyaan itu.
4. Ontology Moderik adalah jika dikatakan bahwa kenyataan itu tunggal adanya, keanekaragaman, perbedaan dan perubahan dianggap semu belaka yang pada akhirnya akan melahirkan ontolohi monistik atau idealisme.
Karakteristik ontologi yang di ungkapkan Lorens Bagus antara lain:
1. Ontologi adalah studi tentang arti ada dan berada, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri.
2. Ontologi adalah mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan katagori-katagori seperti: menjadi dan nyata
3. Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada yaitu yang satu yang absolute
4. Cabang filsafat yang mempelajari status realitas apakah nyata atau semu
B. EPISTIMOLOGI
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Menurut J.A niels mulder epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari soal watak, batas-batas dan berlakunya ilmu pengetahuan
Menurut jacques veuger epustemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan dan pengetahuan yang kita miliki
Menurut abbas hamami mintarejo epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian terhadap pengetahuan yang telah bterjadi.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan:
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
Epistemologi adalah teori pengetahuan:
1. Salah satu cabang filsafat yang mempermasalahkan hakikat pengetahuan, sumber-sumbernya, syarat-syarat memperoleh pengetahuan, kebenaran dan kepastian pengetahuan serta hakikat kehendak dan kebebasan manusia dalam pengetahuan.
2. Cabang filsafat yang khusus menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan.
3. Suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, dan lingkungan sekitarnya.
4. Suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif (menilai), normatif (tentukan tolak ukur) dan kritis (mempertanyakan dan menguji)
Pembahasan dalam Epistimologi:
1. Membahas tentang sumber-sumber pengetahaun
2. Membahas tentang apa yang kelihatan versus hakikatnya
3. Membahas tentang ke-valid-an pengetahuan.
C. AXIOLOGI
Secara etimologis, aksiologi berasal dari perkataan “axios” (yunani) yang berarti ” nilai” dan ”logos” yang berarti ”teori”. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Ilmu sebagai dimensi masyarakat menunjukan adanya kelompok eilt yang dalam kehidupannya sangat mendambakan inpertives, yakni universalisme, komunalisme desinterestedness, dan skeptisme yang teratur.
Bidang filsafat yang ketiga ialah aksiologi, suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Brameld membedakan tiga bagian di dalam axiologi ini sebagai berikut:
1. Moral condact, tindak moral; bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni ethica.
2. Estthetic expression, ekspresi keindahan, yang melahirkana esthetika.
3. Socio-political life, kehidupan sosio politik.
Nilai dan implikasi axiologi di dalam pendidikan ialah “to examine and integrate these values as they enter into the lives of people trough the channel of the schools” => “pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak”
Untuk menjelaskan apakah baik (good), benar (right)buruk dan jahat (bad and evil) bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi baik dan benar, indah dan bernilai, dalam arti mendalam untuk membina kepribadian yang ideal, sungguh suatu tugas utama pendidikan.
Teori tentang nilai dapat di bagi menjadi dua, yaitu:
1. Etika
Etika berasal dari kata Yunani ethos = watak, sedang moral berasal dari kata latin mos (tunggal), mores (jamak) = kebiasaan atau kesusilaan. Dalam sejarah filsafat Barat, etika adalah cabang filsafat yang sangat berpengaruh sejak jaman Sokrates(470-399 SM). Etika membahas baik dan buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajibanmanusia.
2. Estetika
Estetika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat keindahan. Secara etimologi estetika bersal dari kata Yunani aisthetika = hal-hal yang dicerap dengan indra atau aisthesis = cerapan indra. Kalau etika digambarkan sebai teori tentang baik dan jahat, maka estetika digambarkan sebagai kajian filsafati tentang keindahan dan kejelekan. Istilah estetika diperkenalkan oleh seorang filsuf Jerman Alexander Gottlieb Baumgarten lewat karyanya Reflections on Poetry. Baumgarten mengembangkan filsafat estetika yang didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang keindahan lewat karyanya yang berjudul aestheticaacromatika(1750-1758).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar