^,^-Prolog-^,^
Riva berlari pontang-
panting seperti tanpa beban, padahal dia sedang membopong seorang cewek
berseragam SMA yang penuh dengan coretan pilog. Peluh yang mengalir deras di
pelipisnya tak dihiraukan, yang ada di fikirannya hanya secepatnya sampai di
Rumah Sakit.
“ Suster! Suster!”
teriaknya. “Suster! Suster!” triaknya lagi. Kini makin keras, dan panic.
Beberapa perawat muncul sambil membawa brankar. Riva meletakkan cewek itu di
atas brankar, dan dengan sigap perawat- perawat itu mendorongnya menuju ruang
ICU. “ Suter! Tolong teman saya, Sus! Saya mohon, selamatkan dia!” isak Riva
yang ikut mendorong brankar itu. Saking paniknya, dia kalap dan memaksa untuk
ikut masuk ke dalam ruang ICU. Dengan bijak seorang perawat mengingatkannya,
dan Riva pun hanya bisa pasrah, memandang nanar pintu di depannya.
Di dalam ruangan, perawat-
perawat itu sibuk memasang infur dan peralatan lainnya. Salah satu perawat
mengikuti intruksi dari Dokter, dan ada juga yang sibuk mencatat beberapa hal,
entah apa.
“ Nadi bagaimana, Sus?”
Tanya Dokter muda itu.
“Lemah, Dok.” Jawab sang
Suster yang tadinya sudah memeriksa denyut nadi pasien.
“ Jantungnya?” Tanya dokter
lagi.
“ Sangat lemah” jawab sang
Suster sesaat setelah memeriksa jantung pasien. Kemudian sekali lagi, untuk memastikan,
Suster itu mengulang pemeriksaannya. Seketika wajahnya memucat. “Dok,
jantungnya!”
Riva mematung di depan ruang
ICU. Matanya nanar menahan tangis. Detik berikutnya, tubuhnya luruh, terpuruk,
taktertahan lagi air mata itu. Karena ini terlalu sakit, terlalu perih. Setets,
dua tetes, tangisnya pecah. ‘ inikan
hari itu, Tuhan??? Inikah hari itu?? Hari yang selalu dinanti Vira! Haruskah
hari ini?? Jangan dulu, jangan dulu, Tuhan! Jangan dulu ambil dia dariku! Jangan!
Jangan secepat ini!!’ tangis batin Riva.
Seorang lelaki separuh baya
yang masih mengenakan jas terlihat setengah berlari menyuusuri lorong Rumah
Sakit. Beberapa kali dia bertanya pada perawat yang dijumpainya, perawat itu
menunjuk satu arah, dan dengan langkah seribu lelaki itu berjalan ke arah yang
telah ditunjukkan.
“ Riva?” panggil lelaki itu
sesampainya di depan ruang ICU.
Riva mendongak, matanya
merah, sembab. “Om,” ucapnya lirih. Lelaki itu mengamati Riva lekat- lekat.
Hatinya teriris. Diajaknya Riva untuk duduk di bangku yang berjajar di ruang
tungggu.
“Sudah, nggak apa- apa.
Semua akan baik- baik saja.” Lelaki itu mencoba menenangkan Riva. Lebih dari
itu, sejujurnya dia ingin menenangkan dirinya sendiri. Karena ini terlalu
sesak, terlalu sakit. “Nggak apa- apa. Nggak apa- apa.” Suara itu bergetar.
Riva bisa merasakan kepedihan seorang Ayah di sampingnya ini. Riva bisa
merasakan, betapa lelaki ini sedang mencoba tegar. Lelaki ini mencoba menerima
takdir yang harus dijalani putrid semata wayangnya. Putri tercintanya. Satu-
satunya alasan dia hidup, dia bekerja. Satu- satunya alasan akan segala sesuatu
yang dia lakukan. Belahan jiwanya, nyawanya.
Keduanya duduk di kursi
ruang tunggu di depan ruang ICU. Hening. Ada kegelisahan, kecemasan, mereka
hanya berkutat dengan fikiran mereka sendiri- sendiri. Terkadang satu diantara
mereka berdiri, mengintip ke dalam ruang ICU, kemudian berjalan mondar- mandir.
Masih dengan kegelisahan itu, kecemasan itu. Ayah Vira mengamati Riva yang
sedang bersedekap dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya terpejam, tapi
tidak tidur dan tak mungkin bisa tidur. Diamatinya Riva, matanya sembab, baju
seragam yang penuh dengan coretan pilog, kusut, celana yang juga kusut,
terlihat sekali kelelahan dalam tiap lekuk garis wajah tampannya. Dengan hati-
hati, Ayah Vira duduk kembali, dia menepuk pundak Riva.
“ Pulanglah Va.” Ucapnya
lirih, perlahan Riva membuka mata. “ Pulanglah, cukup untuk hari ini. Om
berterimakasih sekali. Kamu sudah menjaga Vira hari ini.”
“ Menjaga?? Apanya yang
menjaga, Om??! Riva itu nggak becus jagain Vira. Kalo aja Riva nggak lengah,
mungkin kejadiannya nggak akan kaya gini. Maafin Riva, Om.”
“ Jangan menyalahkan diri
kamu ssendiri, Va. Ini bukan kesalahan kamu. Mungkin memang sudah waktunya.
Mungkin saja Vira sudah lelah, mungkin dia ingin istirahat.” Suaranya bergetar,
sedetik kemudian ketegaran itu runtuh. Ayah Vira menangis, tangisan pilu
seorang Ayah yang telah ikhlas dan menyerahkan segala keputusan di tangan
Tuhan. “Pulanglah, biar Om yang gantian menjaga Vira.”
“ Nggak, Om. Di dalam sana,
Vira sedang berjuang melawan pwnyakitnya. Riva harus temenin dia, Om. Riva
harus ada di samping Vira.” Riva bersikeras.
“ Jangan keras kepala, Va.
Kamu harus pulang untuk istirahat. Seharian ini pasti sangat melelahkan.”
“ Nggak, Om. Riva tetep akan
di sini.” Tegas Riva. “ Percuma juga
Riva pulang, toh nantinya sampai di rumah, fikiran Riva juga pasti akan terus
ada di sini. Itu justru membuat Riva khawatir, Om.”
Ayah Vira menarik nafas
pasrah. Ditepuk- tepuknya pundak Riva. Terlihat jelas di matanya, ada ribuan
kata terima kasih yang tak akan cukup bila hanya diucapkan. Beberapa saat
kemudian, seorang Dokter keluar dari ruang ICU.
“ Bagaimana keadaan anak
saya, Dok?” Tanya Ayah Vira sambil menyongsong Dokter itu dan diikuti oleh
Riva. Dokter itu terlihat pucat, seperti setumpuk beban telah menindihnya,
hingga bicara pun rasanya sulit, sangat sulit.
“ Sabar ya, Pak” Kata sang
dokter akhirnya.

0 komentar:
Posting Komentar