Pages

Sabtu, 05 Januari 2013

CERPEN (SPN)


MERDU SYMPHONY TAK BERBUNYI
Hujan tak lagi seindah hari kemarin. Atau mungkin hujan tahu bahwa ia jatuh di Kota yang tak indah. Kota yang penuh dengan gedung megah pencakar langit, Kota yang penuh dengan gemerlap dunia malam, Kota yang yang penuh dengan tikus- tikus negara, Kota yang menutup mata dan telinga dari rintihan rakyat jelata.Mungkin hujan telah jengah, atau mungkin telah bosan memancarkan pesona di Kota yang kotor ini.Atau mungkin aku yang telah bosan mengagumi hujan? Ah! Tidak, aku tetap suka mengagumi hujan, hujan di desaku.Hujan yang turun di dedaunan hijau, hujan yang membelai rumpu- rumput, hujan yang senantiasa menyegarkan bunga- bunga layu. Tapi aku benci hujan di kota ini. Hujan di sini redup, seolah mengeluh, bahkan rintiknya tak lagi merdu seperti yang sering kudengar, bising mengusik telinga, menggeram marah.Mungkin berteriak pada mereka yang duduk di kursi panas untuk berhenti bermain- main.Berhenti bermain- main dengan kedudukan, kekuasaan dan berhenti bermain- main dengan kehidupan rakyat.

“ Belum tidur, Yu?” mbak Pita muncul dari balik pintu sambil membawakan segelas susu hangat. “ Masih suka ngelamun di depan jendela sambil mantengin hujan?” tanyanya lagi sambil menaruh gelas dan duduk di tepi ranjang. Aku hanya tersenyum menatapnya tanpa beranjak dari tempatku berdiri.

“ Hujan di sini ndak sebagus hujan di rumah, Mbak.” Mbak Pita menatapku bertanya- Tanya.“ Hujan di sini itu seolah marah. Marah pada mereka yang sedang bermain dengan kekuasaannya.”

“ Hmmmm, mulai deh. Ayu, kamu kan tahu kalau mbak itu cuma Guru Sastra. Jadi pliss jangan ngomongin hal- hal yang mbak ndak ngerti, oke!

“ Tapi kita juga ndak boleh menutup mata dan telinga begitu saja to mbak. Mbak lihat sendiri bagaiman Indonesia saat ini. Kayak tadi pagi, mbak juga nonton berita tentang gosipnya Andi Malarangen yang..

“ Ayu, stop!” potong mbak Pita. “ Dari dulu mbak ndak suka politik, mbak ndak tahu seperti apa itu politik, dan mbak ndak mau tahu apapun tentang politik. Jadi jangan ngajak mbak ke hobby kamu yang suka diskusi tentang politik itu.” mbak Pita bangkit, kemudian beranjak meninggalkan kamarku.“ Jangan lupa diminum susunya.” pesannya sebelum menutup pintu.

Aku menatap jauh ke angkasa yang muram.Tak ada yang bisa diajak bicara di sini, tak ada yang seperti kalian sahabat- sahabatku. Aku rindu bagaimana kita berdiskusi dulu, mengkritisi pemerintah, menyalahkan mereka semau kita, kemudian iseng membuat artikel hasil diskusi yang kita tempel secara ilegal di mading-  mading sekolahan. Aku rindu saat kita membaca koran bersama, menyumpah serapahi para petinggi yang tertangkap karena tindak pidana korupsi, kemudian geram setengah mati karena ternyata mereka yang tertangkap tetap bisa hidup mewah di dalam jeruji besi. Lalu dimana keadilan itu?Apa bedanya tertangkap dengan tidak tertangkap?
*****
“ Mereka bilang negara kita adalah negara hukum. Tapi kenyataannya apa? Keadilan mudah saja dibeli, para koruptor- koruptor itu masih bisa tertawa lebar di dalam jeruji besi.Harusnya mereka mendapat hukuman setimpal karena telah memakan uang rakyat dan menjadikan rakyat semakin sengsara.”Ucap Surya-sahabatku- suatu ketika dalam forum diskusi kelas.

“ Ketidakadilan juga terlihat jelas pada pembangunann sarana dan prasarana pendidikan, buktinyatanya adalah kita. Sekolah kita yang terletak di daerah pinggiran ini.”Sambungku, semua mata mengamati ruang kelas kami.Cat tembok yang mengelupas dan dindingnya yang keropos, lantai kayu yang telah lapuk, genting yang seolah mengancam bisa ambruk kapan saja, dan meja kursi yang sempal.Semua seolah merintih perih.“ Jangankan menjamah sekolah kita ini, mencium baunyapun tidak! Atau mungkin mereka buta kalau ada sekolah di daerah ini!”

“ Tapisaya dengar di tahun 2010 ini pemerintah sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk pendidikan. Bukankah itu kabar baik untuk sekolah kita?Bukankah itu menandakan bahwa pemerintah juga tidak tutup mata terhadap pendidikan?Kita juga tidak boleh terus- menerus menyalahkan pemerintah, karena faktanya pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.” Sanggah Han, ketua kelas kami.

“ Kita lihat saja, Han! Apa dana itu akan utuh turun ke perbaikan pendidikan! Bukannya kamu juga tahu bahwa terlalu banyak tikus di negara kita?”Surya angkat bicara lagi.

“ Baiklah anak- anak, diskusi hari ini cukup. Terimakasih, kalian sangat luar biasa. Satu yang harus kalian ingat, meskipun SMA kita ini bukanlah SMA yang unggul, bukan SMA yang memiliki fasilitas lengkap, kalian tidak boleh memandang rendah diri kalian sendiri yang bersekolah di sini. Kalian harus buktikan bahwa kalian adalah agent of change yang akan merubah kebobrokan negara. Kalian pantas untuk itu.Selamat siang, dan sampai jumpa besok.” Pak Widhi, Guru PKn kami mulai membereskan buku dan beranjak meninggalkan kelas.

Setetes air jatuh dari dahan yang basah. Membekas pada selembar kertas yang kugenggam.Aku mendongak pada dahan di atasku, mungkin sisa hujan semalam. Kemudian aku mengamati setitik bekas air di kertasku. Hanya titik itu yang basah, tidak menjamah yang lain, tidak membasahi seluruh permukaan kertas.Mungkin pemerintah juga seperti itu.Hanya mengenggam yang dekat, hanya memeluk yang bisa tergapai, hanya peduli pada yang terlihat.Lalu bagaimana dengan kami yang notabene orang pinggiran ini?Bagaimana dengan semangat kami?Bagaimana dengan mimpi- mimpi kami?Seolah kami hanya anak tiri, seolah kami bukan bagian dari negara ini.Inikah yang disebut keadilan?Inikah yang disebut negara hukum? Ah! Entahlah, aku begitu lelah dengan semua pertanyaanku sendiri. Menggagas negara ini hanya akan membuatku semakin marah dan terluka.

Aku menyusuri jalan setapak di tengah sawah sambil menenteng sepatu.Jalannya terlalu becek, aku tidak mau sepatuku kotor.Sesekali aku beretegur sapa dengan orang- orang yang aku temui di sawah, inilah kehidupan di desa, ‘guyup rukun loh jinawi’. Kami semua bisa saling mengenal satu sama lain dan bagaikan saudara. Meskipun hidup dalam kesederhanaan kami tetap saling membantu dan memberi, karena kami yakin bahwa memberi tak akan menjadikan kami semakin miskin, meski sebenarnya kami sudah miskin. Sampai rumah, aku melihat Ayah sedang membuat kandang ayam. Ini untuk mengisi waktu luangnya selain pergi ke sawah dan ke Sekolahan. Ayah adalah Tukang Kebun sebuah Sekolah Dasar yang terletak di Kabupaten. Biasanya beliau berangkat subuh dan pulang menjelang ashar karena jarak desa kami dengan Kabupaten cukup jauh.Aku segera masuk ke dalam, ganti baju dan kemudian membantu ayah.

“ Ayah, nanti setelah lulus SMA Ayu pengen kuliah kaya mbak Pita.” Ucapku sambil menghaluskan bambu dengan pisau.Lama, ayah hanya diam. Kemudian menghela nafas panjang.

“ Kamu kan tahu, nduk. Kalau semakin lama, biaya pendidikan itu semakin mahal. Ayah ndak bisa janji soal itu, menguliahkan mbakmu saja ayah harus hutang sana sini.” Sesak rasanya mendengar jawaban ayah.“ Tapi kalau kamu pinter dan bisa mencari beasiswa, itu beda lagi ceritanya. Makanya, belajar yang rajin, nduk. Ayah juga kepingin lihat kamu jadi sarjana.”

            Fajar menyingsing dengan anggun di ufuk timur, menerpa dedaunan yang basah.Lagi- lagi karena hujan, bahkan hujan juga selalu menbuat becek jalanan.Tapi aku tak pernah membencinya, aku tak pernah berhenti mengagumi hujan di desaku yang hijau.Aku bersiap menenteng sepatuku untuk melewati jalanan yang becek, tapi tiba- tiba sebuah ide muncul di kepalaku.Aku segera berlari ke dalam rumah mengambil dua buah kantong plastik.Kupakai sepatuku, kemudian kubungkus dengan kantong plastik.Nah, dengan begini aku bisa berjalan bebas tanpa takut sapatuku kotor.Terlihat lucu memang, tapi bukankah ini ide yang tidak mengecewakan?Dengan mantap aku melangkah meninggalkan beranda rumah, terdengar berisik suara kantong plastik, tapi tak apalah, ini seru.

            Pagi ini sekolahanku tampak sibuk, guru- guru dan para siswa sibuk mengeluarkan buku- buku yang tampak kuyu, menjemurya di halaman sekolah.Aku menatap bangunan tua di hadapanku, dua tiang penyangganya roboh, genting yang kemarin seolah mengancam kini telah jatuh berserakan di lantai, berantakan sekali.Sudah beberapa minggu ini memang sekolah kecilku menghadapi terpaan hujan deras.Dan bukan hal yang mengejutkan lagi jika hal seperti ini menimpa sekolahku. Aku sudah hampir dua tahun di sini, dan di musim hujan tahun lalu, hal yang sama juga menimpa sekolahku yang malang ini. Beberapa anak tertawa geli memandangku, mungkin karena kantong plastik yang masih membungkus sepatuku, tapi aku hanya diam memikirkan kemungkinan diliburkannya sekolah hari ini. Bagi siswa biasa sepertiku, tentu saja libur sekolah adalah hal yang menyenangkan.

“ Libur sehari. Setelah itu, untuk sementara waktu kita akan meminjam rumah Pak Kades buat belajar.” Ucap Surya yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku hanya menoleh sekilas, kemudian kembali memandang kesibukan di depanku.

“ Ayu.” Panggil Bu Rum, guru ekonomiku.

“ Iya, Bu?” jawabku sopan

“ Olimpiade seminggu lagi, tapi buku- buku yang seharusnya jadi bahan belajar kamu basah semua dan tulisannya kabur. Beberapa juga rusak. Hari ini kamu ke Perpus Pusat ya! Kamu bisa pinjam buku di sana untuk belajar.”

“ Oh iya, Bu. Sepulang dari sini saya akan ke Perpus Pusat.”

“ Belajar yang rajin. Bawa nama baik sekolah kita.” Kemudian Bu Rum pergi dengan meninggalkan sebuah senyum penuh harap.

            Seminggu lagi akan ada Olimpiade Sains Nasional, dan kebetulan aku mewakili sekolah dalam mata pelajaran ekonomi. Kurang lebih tiga bulan sudah aku digembleng pelajaran ekonomi dari kelas X, XI, dan XII. Dari semua pelajaran itu yang paling susah adalah materi kelas XII, karena aku baru kelas XI dan sama sekali tidak memiliki gambaran tentang pelajaran ekonomi kelas XII. Jurnal Penyesuaian, Jurnal Pembantu, HPP, Jurnal Pembalik, dan apalah itu, semua membuatku pusing. Kesenangan libur seketika menguap, hari ini aku mungkin akan lebih lelah.

“ Semangat! Aku sama Ima bakalan nemenin kamu nanti.” Ucap Surya menyemangatiku, dan lagi- lagi aku hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis padanya.

            Aku, Surya, dan Ima berjalan menyusuri jalan setapak yang becek dan telah rusak menuju terminal terdekat dari desa kami. Jaraknya sekitar lima kilometer, setelah itu kami naik bus sampai Kabupaten, lalu naik angkot sampai Perpus Pusat. Hanya ada satu Perpustakaan Umum di tempatku, itupun jaraknya sangat jauh. Tanpa buang waktu aku segera mencari buku yang aku perlukan, Surya asyik membaca koran, dan Ima terlena oleh rak novel.

“ Eh, Yu! Liat deh.” Surya mengejutkanku dengan menenteng koran tepat di depan wajahku. Ia menunjuk satu judul besar di koran itu. “ Kemendiknas dan status disclaimer-nya”. Terdapat dugaan penyelewengan dana APBN 2010 pada Kemendiknas. BPK menemukan kebocoran anggaran senilai 763 miliar, dimana terdapat 43 rekening liar senilai 26,4 miliar, 69 miliar belum disetor ke kas negara, 62 miliar belum dibayarkan kepada tunjangan profesi dan beasiswa. Hal ini menunjukkan realisasi yang tidak benar dari dana APBN di sektor pendidikan.

“ Ini nih!” seru Surya, membuat orang- orang yang berada di dalam perpus sontak menyuruhnya diam dengan isyarat ‘ssssttt’, Surya menoleh kanan dan kiri sambil menganggukkan kepala, tanda meminta maaf, Ima yang mendengar Surya histeris segera mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi. “ Ini nih yang bikin sekolah kita ambruk tadi pagi! Bisiknya dengan nada jengkel. “ Gimana sekolah kita yang sudah renta itu ndak ambruk! Wong dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki sekolah kita saja malah dibelokkan jalannya!”

“ Bener, Ya.” Sambungku. “ Dan bukannya disclaimer itu berarti bahwa lembaga memiliki pengawasan internal yang lemah. Nah, kalau pengawasannya saja sudah lemah, itu berarti memberi kesempatan emas pada para ‘pemakan’ uang rakyat to? Menyedihkan banget kalau kementrian yang berlabel Tut Wuri Handayani itu justru menyelewengkan dana yang seharusnya digunakan untuk memajukan pendidikan. Kalau begini, mana bisa diadakan perbaikan infrastruktur pendidikan? Ah, pemerintah itu memang hanya bisa mengumbar janji tanpa realisasi!” lanjutku, Ima yang notabene tidak suka memikirkan negara hanya manggut- manggut.

            Seolah waktu tak mau berhenti berlari, hari Olimpiade Sains Nasional tiba. Aku dan beberapa teman serta adik kelas berangkat ke sebuah SMA favorit di pusat kota. Disanalah Olimpiade Sains Nasional diadakan. Kami berangkat pukul lima pagi berhubung jarak yang jauh, dan sampai sekitar pukul delapan. Olimpiade dimulai pukul sembilan, jadi aku masih memiliki waktu sekitar setengah jam sebelum persiapan. Aku berkeliling sekolah itu, dan betapa irinya hati ini. Sekolah itu besar, tingkat dua pula. Terdiri lebih dari dua puluh ruangan. Lantai satunya didominasi oleh laboratorium- laboratorium dengan fasilitas lengkap, aku ternganga melihat alat- alat yang disimpan di dalam kaca transparan, terlihat berkilau dan penuh dengan sains. Tak ada cacat sedikitpun dari bangunan itu, semua tampak mewah dan ‘wah’. Aku menaiki tangga dan melihat- lihat ruang kelas, dan untuk yang kesekian kalinya hati ini teriris. Kelas itu sudah dilengkapi dengan proyektor, dan ber- AC, terdapat sekitar empat AC dalam satu kelas. Aku berfikir, bagaimana global warming bisa mereda kalau seperti ini keadaannya. Di sudut lorong terdapat kamar mandi yang tak kalah membuatku sesak. Bahkan kamar mandi di sinipun dikramik dengan indahnya, bagi kami yang notabene anak desa pasti akan betah di sini meskipun hanya di kamar mandi. Aku sangat yakin, siapapun yang bersekolah di sekolah ini pasti adalah orang- orang yang berduit.

            Dan seperti inilah pendidikan Indonesia, mereka yang berduit bisa mengenyam pendidikan yang baik, sementara kami yang orang tak punya hanya mendapat pendidikan yang ala kadarnya. Tapi dengan egois pemerintah tetap menuntut kami menjadi generasi yang berpotensi, menuntut kami untuk mengikuti standar aturannya, sementara mereka hanya mampu menuntut tanpa mengulurkan tangan. Sepulang dari SMA itu, satu hal yang ingin aku lakukan, yaitu menangis. Bagaimana hati ini tidak sesak saat mendapati betapa berbedanya sekolah kecilku dengan sekolah gedong itu. Bagaimana bisa pemerintah menerapkan standar yang sama sementara yang tersedia untuk kami begitu berbeda. Inikah yang disebut pemerataan pendidikan? Inikah yang disebut keadilan? Inikah yang disebut bangsa yang merdeka? Ah! Entahlah!

            Dua minggu berlalu setelah Olimpiade itu, pengumuman juara telah diumumkan. Aku menempati juara II Tingkat Provinsi, itu adalah hal yang luar biasa bagi sekolah kecil kami, karena itu merupakan bukti bahwa kami mampu meski dalam kondisi yang serba terbatas.
“ Percayalah, fasilitas memang penting untuk mendukung lancarnya proses pendidikan. Tapi, fasilitas bukan poin utama untuk menjadikanmu orang hebat, itu semua tergantung pada bagaimana kamu menyikapinya.” Kata- kata itu adalah kata- kata yang paling bijak yang pernah kudengar dari Surya.
*****
            Cahaya mentari pagi menembus teralis jendela kamar, membangunkanku dari tidur yang tak bermimpi. Di luar sana, transportasi hilir mudik membisingkan jalan. Tak ada langit biru di Kota ini, semua tertutup oleh awan kelabu yang berasal dari asap- asap pabrik industri, asap transportasi, dan polusi udara lainnya. Aku rindu kampung halamanku, aku rindu sawah yang terhampar luas, aku rindu sejuknya udara yang dapat kuhirup, dan aku rindu semilir angin yang membelai lembut.

“ Ayu.” Terdengar suara mbak Pita dari balik pintu. Aku segera membuka pintu, dan membiarkan mbak Pita masuk. “ Mbak mau pulang, mumpung dapat cuti dari Bos. Kamu mau ikut pulang ndak?”

“ Mau mbak.” Jawabku spontan.

“ Kuliah kamu gimana?”

“ Ini kan minggu tenang mbak, jadi Ayu libur.”

“ Oh iya mbak lupa. Ya sudah, kamu siap- siap. Kita pulang naik kereta.”

            Merdu nyanyian burung kenari seolah menyambut kepulangan kami, tempat ini masih seindah dulu, masih sehijau dulu, dan masih memiliki bau udara yang sama. Hanya sekarang jalanannya sudah sedikit diperbaiki, tidak terlalu lebar, tapi cukuplah untuk transportasi angkot, jadi setidaknya sekarang kami tidak harus jalan lima kilometer untuk sampai di terminal.

            Siangnya, aku tidak sabar ingin melihat perkembangan sekolahku dulu. Dan sesampainya di sana, aku hanya bisa menelan ludah. Satu tahun setelah kelulusanku, tak ada yang banyak berubah dari sekolah kecil ini. Temboknya yang keropos hanya ditutup dengan semen ala kadarnya tanpa dicat. Kayu penyangga atap ada di berbagai sudut. Jendelanya hanya berupa papan- papan yang dipaku sembarangan, tetap menyisakan cela. Sepertinya pemerintah tidak memiliki TV sehingga mereka tidak bisa tahu keadaan daerah pinggiran seperti ini. Sudah hampir setahun aku meninggalkan sekolah ini, tapi apa? Tak ada yang berubah, adapun itu hanya sedikit dan itu pun dari masyarakat sekitar yang tak ingin membiarkan sekolah ini ambruk. Menurut keterangan yang aku dapat, sumbangan dari pemerintah tidak cukup untuk memenuhi fasilitas sekolah serta memperbaiki bangunannya, sehingga pihak sekolahan memutuskan untuk memenuhi fasilitas terlebih dahulu dan menomor duakan pembangunan sekolah.

“ Ada yang bisa saya bantu mbak?” seorang pria bertanya dengan sopan, dan aku terkejut saat menoleh.

“ Surya?”

“ Apa kabar, Ayu?”

“ Baik, kamu? Kenapa ada di sini? Sibuk apa sekarang?”

Kami berbincang- bincang sambil duduk di beranda sekolahan. Dari situ aku tahu bahwa dia sekarang kuliah di Universitas Terbuka yang terletak tidak jauh dari Kabupaten. Dia juga sering ke Sekolah itu untuk sekedar bantu- bantu mengajar, tanpa digaji tentunya.

“ Bagaimana Jakarta? Pasti kamu senang sekali bisa kuliah di sana, apalagi kamu mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang sesuai dengan cita- cita kamu, menjadi seorang jurnalis.”

“ Ah, Jakarta ndak senyaman di sini, Ya. Jakarta ndak seteduh disini.” Surya hanya tersenyum simpul mendengar ucapanku.

“ Sudah dengar berita hari ini?” tanyanya.

“ Apa?”

“ Tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh yang bilang kalau akan mengedepankan pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah terdepan.”

“ Oh, berita itu. Iya sudah, lagi- lagi janji seperti itu. Hmmhh” aku mengehela nafas.

“ Kalau ndak salah, pemerintah mengeluarkan dana sekitar 303 triliun rupiah untuk anggaran pendidikan di tahun 2012 ini. Wakil presiden kita juga bilang kalau akan ada sekitar 172.000 ruang kelas yang akan diperbaiki, termasuk sekolah ini juga akan kecipratan dana itu.”

            Di tahun 2012 ini pemerintah mengucurkan dana sekitar 303 triliun untuk pembangunan infrastruktur pendidikan di indonesia. Dan rencananya, yang diprioritaskan adalah daerah terdepan alias daerah pinggiran yang notabenemerupakan daerah yang sulit dijangkau dan biasanya menjadi perbatasan negara. Rencananya 303 triliun itu nanti akan difokouskan pada pendanaan BOS dan sekolah rusak. Dan seharusnya dengan dana yang sebegitu besar, Indonesia bisa memperbaiki infrastruktur pendidikan secara bertahap.

“ Tapi apa iya masyarakat bisa percaya sama Kemendikbud sekarang, Ya? Kita lihat saja di tahun 2010 kemarin, status disclaimer itu sudah membuat masyarakat ndak percaya lagi sama omongan pemerintah.” Ucapku sangsi.

“ Kita lihat saja nanti, Yu. Apa 303 triliun itu nanti akan utuh turun untuk pendidikan Indonesia. Kita hanya bisa berharap.”

            Langit senja yang jingga seolah mengajak kami untuk terus berharap. Semoga omongan pemerintah itu tidak hanya menjadi shympony yang merdu namun tak berbunyi. Melainkan menjadi shympony merdu yang dapat dinikmati semua orang. Kita hanya mampu berharap.

-Tamat-

Senin, 31 Desember 2012

Hate To Miss Someone

one night i stand
i remind of you our hope and dream
tears in my eyes when you gone so fast
when i realized you know i can't be perfect

i fall for you
you make me like i can stand with you
you make me like can life with you
i can hold your hand
so please don't make me down

i try to be a stronger
when i know everything is over
everytime i feel everyday i think
i never see you once again

oh no i can't be stronger
even i try to forget you
oh no i missing you
i need is you
so please don't make me feel like
i keep you in my heart

Telah Lelah


Jelaskan padaku bagaimana caraku melepasmu
Padahal setahuku,
Aku tak pernah memiliki dirimu
Jelaskan padaku bagaimana cara untuk lupakanmu
Padahal setahuku,
Tak ada yang bisa diingat antara kita

T’lah lelah aku bertahan
T’lah lelah aku peduli tanpa kau mengerti
Ingin pergi namun sulit
Ingin benci namun aku tak bisa


Tak bisakah sebentar saja
Biarkan aku tak terluka
Tak bisakah sebentar saja
Izinkan aku memiliki hatimu

benk evangelion


***orang tiap hari makan dari mulut ke bawah mengisi perutnya. Apakan anda sudah tiap hari makan dari mulut ke atas mengisi otak???***

***mungkin bukan kamu yang terbaik buat aku, mungkin kamu hanya halusinasi kenanganku***

***untuk sebuah nama, rindu ini tak akan pernah pudar***

***apa arti pengorbanan tanpa keikhlasan***

***kesendirian memberiku lebih banyak waktu untuk berfikir. Namun terlalu banyak berfikir akan membuatku semakin galau***

***Tuhan menciptakanmu dengan penuh keindahan, itu yang membuatku mengaguminu***

***aku suka senyummu, walau aku tahu senyum itu bukan untukku. Tapi aku masih auka untuk menatapnya***

***Maha Besar Dia yang menciptakanmu dengan penuh kesempurnaan sehingga aku terpesona olehmu***

***aku tahu kesukaanmu, kebiasaanmu, semua tentangmu, kecuali perasaanmu padaku. Itu saja!***

***janganlah katakan semua yang anda ketahui. Tapi ketahuilah semua apa yang dikatakan***

***kemarin aku tersenyum karenamu, sekarang aku harus lebih  bisa tersenyum tanpamu walau kutahu itu berat kulakukan***

***jika hanya dalam mimpi saja aku bisa memilikimu, maka biarlah aku terlelapm untuk sementara***

***hati memang bukan mata yang bisa melihat, namun hati bisa merasakan apa yang tidak bisa dilihat oleh mata***

***males berharap pada sesama makhlukNya, pasti endingnya kecewa***

***hanya dengan memandangmu aku mengenal kata sempurna***

***banyak orang yang bisa bersabar, tetapi hanya sedikit orang yang dapat mengerti***

***hidup sederhana itu mengajariku untuk lebih mensyukuri apa yang aku dapat***

***cari pacar yang mau naik vespa itu bagai mencari jerami di tumpukan jarum***

***dunia memberiku banyak pilihan, tapi akhirat hanya dua, syurga atau neraka***

***kopi itu pahit, sepahit senyummu***

***genggamlah bumi sebelum bumi menggenggam anda, pijaklah bumi sebelum bumi memijak anda. Maka perjuangkanlah hidup ini sebelum anda memasuki perut bumi***

***terkadang seseorang terlihat rupawan bukan karena fisiknya, akan tetapi dari kepribadiannya yang menarik***

***real men use the left hand shift gears***

***dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu***

***hidup adalah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah mimpi maka bangun dan raihlah***

***layang- layang terbang tinggi dengan menentang angin, bukan mengikutinya***

***ketika hidup tampak menjatuhkan, tapi ku percaya Tuhan akan mengangkat derajat hambanya***

***mungkin Tuhan tak mengabulkan do’aku, tapi Tuhan tahu yang terbaik untukku***

***I’m not perfect because I’m not God***

***kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalo ada umur yang panjang, boleh kita brtobat lagi***

***orang kaya seperti temostat (pengukur suhu), orang miskin seperti termometer (pengukur suhu)***

***kunamai engkau malam, sebab bulan ada di wajahmu, Dinda. Dan bintang ada di matamu***

***orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan***

***mungkin nanti uban dan kerut mampu menenggelamkan kecantikanmu, tapi percayalah aku takkan pernah lupa***

***mereka yang telah mengalami pahitnya kehidupan akan menghargai apa itu manis***

***apabila kamu tak dapat mengubah arah angin, maka aturlah layarmu***

***akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita kemana saja ia melangkah***

***seseorang bahagia bukan karena ia memilki banyak hal, tetapi karena ia tidak membandingkan miliknya dengan milik orang lain***

***cukup tau! Terimakasih Tuhan, memberi tahu apa yang belum saya ketahui***

***papa kamu guru ya??? II kok kamu tahu?? II karena kau telah mengajari aku cara bertahan hidup tanpamu!***

***biji ketapang diamuk pasang, semakin kudatang semakin kau menghilang***

***populasi cewek cantik berbanding terbalik dengan cewek beriman***

***lebih baik diam dan membiarkan orang lain menganggap bodoh, daripada membuka mulut menjelaskan hal yang sia- sia***

***jika sebuah pohon kehilangan sebuah daun, Ia akan mengganti dengan daun yang baru***

Jumat, 28 Desember 2012

Pesan Penting ^_^'


Nungky Surya ‘NsN’


Bismillahirrohmanirrohim
Tau kenapa ane malas? Gak, bukan malas, tapi rada enggan nge add cewek????
Bukan gak mau temenan sama cewek, atau gak suka sama cewek, bukan, sama sekali bukan itu.
Asal ukhty tau,di dunua maya ini, mata ane sering berKHIANAT, suka gak suka, mau gak mau. Begitulah fakta berbicara.
Ane bukan lelaki suci, dengan hati putih bersih tak ternoda. Ane juga bukan seSholeh yang ukhty kira, yang terlepas dari nafsu dunia.
Buka beranda fb, wah wah wah…. Aneka foto bertebaran dimana- mana. Yang lagi senyum, manyun, pasang aksi pasang gaya. Sampai yang buka- bukaan aurat pun ada. Astaghfirullah.
Jangan salahkan ane kalo kadang ane menyempatkan diri untuk “sekedar MENGINTIP” ke album ukhty.
Melihat koleksi PP ukhty yang terkadang membuat hati ini “sedikit” hmmm….
Sekali lagi ukhty, hati ane masih sekotor lumpur. Kadang ane juga menyempatkan diri buat COPAS beberapa foto ukhty buat koleksi pribadi. Ya, ane salah ukhty. Tapi salah siapa yang duluan memajang foto- foto yang “INDAH- INDAH” dengan full akses tanpa proteksi????
Sekali lagi ukhty, ane bukan lelaki suci. Kadang ane juga “bermasalah” dalam menjaga hati.
Godaan di kanan kiri, depan belakang. Gak di dunia nyata, eh di dunia maya kecripratan juga.
Ukhty fillah, ukhty bilang pada kami kaum adam agar menundukkan pandangan. Menjaga kehormatan para ukhty. Tapi kenapa ukhty???
Kadang ukhty, maaf “tebar pesona” dengan PP yang menggoda
Kami tau ukhty, wanita suka dibilang CANTIK, dan faktanya adalah semua wanita cantik ukhty.
Bukan senyum menawan yang membuatmu cantik.
Bukan gaya gemulai yang membuatmu menarik
Tapi keteguhan hatimu menjaga HIJAB dan AURATmu. Keistiqomahanmu menjalankan perintah Rabbmu. Keindahan budi pekertimu ukhty.
Itulah yang membuatmu CANTIK, bukan RAGA yang kau umbar sepuas rasa.
Duhai ukhty, jagalah kehormatanmu seperti yang diperintahkan oleh RABBmu
Teguhlah selalu dengan hijabmu. Agar kami para ikhwan, menghormatimu. Agar kami tak mengambil kesempatan darimu.


Dari ikhwan yang peduli padamu.


Note: Sukron mas, pesan ini gag akan adhek lupain,.. maaf sempat mengecewakanmu ^_^’

Rabu, 26 Desember 2012

Kata- kata Bijak


“ Saya sangat yakin bahwa ada banyak jalan untuk menjadi pemenang, namun hanya ada satu jalan untuk menjadi pecundang, yaitu gagal dan tidak belajar dari kegagalan itu” ( Kyle Rote Jr.)

“ Orang terlatih untuk menghadapi kesuksesan, padahal seharusnya mereka berlatih untuk menghadapi kegagalan. Kegagalan jauh lebih sering terjadi daripada kesuksesan; kemiskinan jauh lebih mudah ditemui darpada kekayaan; dan kekecewaan jauh lebih lumrah daripada daripada kepuasan” ( J. Wallace Hamilton)

“ Perbedaan antara yang besar dengan yang biasa- biasa saja sering terletak pada bagaiman cara seseorang memandang kekeliruan” ( Nelson Boswel)

“ Salah satu masalah terbesar yang dihadapi orang dengan kegagalan adalah bahwa mereka terlalu cepat menilai situasi- situasi tertentu dalam hidup mereka dan menganggapnya sebagai kegagalan. Sebenarnya, mereka perlu mengingat gambaran besarnya.” ( John C. Maxwell)

“ Kekeliruan menjadi kesalahan jika kita salah dalam memandang dan menanggapinya. Kesalahan menjadi kegagalan saat kita terus menerus menanggapinya dengan cara yabg salah.” ( John C. Maxwell)

“ Banyak orang yang gagal karena tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka menyerah.” ( Thomas Edison)

“ Kegagalan tidaklah terlalu buruk selama tidak menyerang jantung. Kesuksesan boleh saja selama tidak membuat besar kepala.” ( Gratland Rice)

“ Jika para peraih prestasi gagal, mereka memandangnya sebagai peristiwa yang sementara, bukan seumur hidup.” ( John C. Maxwell)

“ Rasa takut akan membuat apa yang kita takuti menjadi kenyataan.” ( Viktor Frankl)

“ Langkah pertama yang paling penting untuk mengurangi dampak kegagalan adalah dengan belajar untuk tidak mengambil hati pada kegagalan tersebut- memastikan Anda tahu bahwa kegagalan Anda tidaklah menjadikan Anda seorang pecundang” ( John C. Maxwell)

“ Lebih baik Anda bertindak hingga timbul perasaan, daripada merasakan hingga mau bertindak” ( Jerome Bruner)

 “ Janganlah buang- buang energy untuk mencoba menutup- nutupi kegagalan. Belajarlah dari kegagalan Anda dan majulah terus menghadapi tantangan berikutnya. Gagal itu tidak apa- apa. Jika Anda tidak gagal, Anda tidak akan bertumbuh.” ( H. Stanley Judd)

“ Sembilan puluh persen dari mereka yang gagal sebenarnya belum kalah. Mereka hanya menyerah.” ( Paul J. Meyer)

“ Kesuksesan yang besar menuntut tanggung jawab….. setelah dianalisis, ternyata kualitas yang dimiliki semua orang sukses adalah kemampuan memikul tanggung jawab.” ( Michael Korda)

“ Hidup ini bukan hanya tentang memiliki tangan yang terampil. Melainkan menggunakan tangan yang kurang terampil dengan baik.” ( Ungkapan Bangsa Denmark)

“ Manusia tidak dikalahkan oleh lawan. Melainkan oleh dirinya sendiri.” ( Jan Christian Smuts)

“ Persoalan adalah yang dapat diselesaikan. Kenyataan adalah sesuatu yang harus diterima.” ( John C. Maxwell)

“ Salah satu alasan mengapa Tuhan menciptakan waktu adalah sebagai tempat untuk mengubur kegagalan- kegagalan di masa lalu.” ( James Long)

“ Setiap kesulitan besar yang Anda hadapi dakam hidup ini adalah persimpanga. Andalah yang memilih, jalan mana yang akan Anda ambil, mnuju kehancuran atau terobosan.” ( John C. Maxwell)

“ Kegagalan adalah kesempatan terbesar untuk mengetahui siapa diri saya sebenarnya.” ( John Killinger)

“ Kita bisa mengubah seluruh hidup kita dan sikap orang- orang de sekeliling kita hanya dengan mengubah diri kita.” ( Rudolf Dreikus)

“ Pertempuran yang penting terjadi di dalam diri sendiri.” ( Sheldon Kopp)

“ Banyak orang terus menerus bergumul dengan kegagalan karena mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri.” ( John C. Maxwell)

“ Tidak ada upaya yang timbul bagi diri sendiri. Pasti untuk memenuhi suatu kebutuhsn, member pelayanan, bukan bagi dirinya sendiri, melainkan bagi orang lain, kalau tidak, tentu tidak ada manfaatnya.” ( Calvin Coolidge)

 “ Untuk mencapai impian Anda, Anda harus merangkul kesusahan dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari hidup Anda. Jika Anda tidak gagal, mungkin Anda tidak sungguh- sungguh maju.” (John C. Maxwell)

“ Dalam ilmu pengetahuan, kekeliruan selalu mendahului kebenaran.” ( Horace Wolpole)

“ Sementara yang satu ragu- ragu karena kurang percay diri, yang lain sibuk dengan membuat kekeliruan- kekeliruan dan menjadi unggulan.” ( Henry C. Link)

“ Saya tidak percaya pada nasib yang menimpa manusia karena perbuatannya, namun saya percaya pada nasib yang akan menimpa manusia jika tidak bertindak.” ( G. K. Chesterton)

“ Seorang pemenang mengetahui seberapa banyak yang masih harus dipelajarinya, sekalipun ia sudah dianggap ahli oleh orang lain. Seorang pecundang ingin dianggap ahli oleh orang lain sebelum menyadari betapa sedikit yang ia ketahui.” ( Sydney Harris)

“ Jika ada satu factor tunggal yang menetukan menentukan kesuksesan dalam hidup, itu adalah kemampuan untuk memetik hikmah dari kekalahan.” ( William Marston)

“ Belajar artinya mengubah perilaku. Anda belum belajar apapun hingga Anda dapat mengambil tindakan dan menguunakannya.” ( Don Shula dan Ken Blanchard)

“ Jangan hanya mendapatkan pengetahuan dari proses belajar Anda, amalkanlah dam tindakan nyata.” ( Jim Rohn)

“ Kegagaln itu tidak ada, yang ada hanyalah tidak lagi mencoba. Kekalahan itu tidak ada, kecuali dari dalam, hambatan yang tak terkira itu tidak ada, kecuali kelemahan kita yang hakiki, yaitu tidak memiliki tujuan hidup.” ( Ken Hubbard)

“ Lebih dari apapun juga, yang membuat seseorang bertahan di tengah- tengah kesusahan adalah tujuan yang jelas. Tujuan adalah bahan bakar yang memberdayakan keuletan.” ( John C. Maxwell)

“ Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada diri Anda. Pengalaman adalah apa yang Anda perbuat dengan apa yang terjadi pada diri Anda.” ( Aldous Huxley)

“ Kegagalan adalah lambang kesuksesan. Kegagalan dapat menjadi titik awal dari suatu upaya baru, seperti ketika seorang bayi belajar berjalan; ia harus banyak jatuh untuk belajar keterampilan baru itu. Kegagalan juga tanda sukses yang Anda upayakan. Jika seorang pelompat galah gagal dalam suatu kompetisi, itu memperlihatkan seberapa jauh prestasinya. Kegagalan tersebut menjadi titik awal dari upayanya yang berikutnya, membuktikan bahwa kegagalan itu tidak final sifatnya.” ( Dave Anderson)

“ Perubahan pada dasarnya bukanlah menerapkan teknologi, metode, strutur, atau manajer- manajer baru. Perubahan pada dasarnya adalah mengubah cara manusia dalam berfikir dan berperilaku.” ( Rhenald Kasali, Ph. D)

“ Kala kita bodoh, kita memang ingin menguasai orang lain. Tetapi kala kita bijak, kita ingin menguasai diri sendiri.” ( Rhenald Kasali, Ph. D)

“ Perubahan memerlukan Anda semua, bersatu, bergerak dan menyelesaikannya.” ( Rhenald Kasali, Ph. D)

“ Seperti patung indah yang tebelenggu oleh batu- batu pembentuknya, manusia juga terbelenggu oleh tradisi dan dogma.” ( Rhenald Kasali, Ph. D)

“ Kalau Anda tak mau tersesat, Anda tak akan menemukan jalan baru.” ( Rhenald Kasali, Ph. D)